Nadiem Makarim – Gojek

Nadiem Makarim – Gojek

Siapa sih yang ga tau gojek? Pengendara ojek dengan jaket hijau yang berputar-putar di Jakarta. Hampir seluruh warga Indonesia tahu tentang gojek karena selain pengendara ojek yang berputar-putar, startup ini juga semakin sering diliput oleh media TV. Pendiri dari gojek adalah Nadiem Makarim, seseorang yang berlatar belakang kuat dan juga sangat berprestasi. Yuk kita simak perjalanan founder gojek yang satu ini:

Nadiem Makarim dan Gojek

Nadiem sudah studi di luar negeri sejak kecil, ia menyelesaikan studi S1nya di Brown University di Amerika Serikat. Setelah dari itu, ia kemudian balik ke Indonesia untuk bekerja dengan perusahaan konsultan ternama Mckinsey sebagai Business Analyst. Setelah 3 tahun bekerja, ia kemudian meninggalkan Mckinsey untuk kuliah di Harvard mengambil MBA. Setelah lulus MBA, ia kembali lagi ke Mckinsey untuk bekerja sebagai Associate beberapa tahun.

Sehabis Mckinsey, Nadiem sempat bekerja di beberapa tempat: Zalora, Kartuku. Selama bekerja, ia melihat peluang yang sangat besar pada pekerja ojek Indonesia. Banyak sekali ojek yang nangkring di jalanan dan hanya menunggu konsumen, sebagian besar waktu mereka dihabiskan hanya untuk menunggu konsumen. Gerah melihat ini, ia kemudian mendirikan PT Gojek Indonesia bersama dengan kedua temannya. Pada awalnya, Gojek hanya berbasis call center dan orang harus telpon ke call center tersebut apabila ingin memesan gojek.

Pada tahun 2014, nadiem memutuskan untuk meninggalkan dunia profesional dan memfokuskan diri di startup gojek, momennya pas dan kemudian memang gojek sudah mendapatkan pendanaan dari investor untuk ekspansi bisnis. Gojek gilanya bisa mencapai jumlah 200,000 pengendara hanya dalam kurun waktu 1 tahun lebih. Selain itu, total download dari mobile aplikasinya juga mencapai 6 juta dalam waktu 1 tahun. Saking terkenalnya, gojek ini sampai digunakan sebagai kata-kata. Kami masih ingat ada sekali pengendara grabbike yang sedang mengantarkan barang ke toko dan kemudian si pelayannya masih menggunakan kata ‘mas gojek, tunggu bentar ya’ karena memang kata-kata gojek sudah viral dan menempel di seluruh kepala masyarakat.

Apa yang bisa kita pelajari dari Nadiem?

1. Bisnis bisa dijalankan oleh profesional dengan sukses. Dulu orang selalu berpikiran bahwa orang-orang non-profesional selalu mendominasi sektor bisnis, namun Nadiem sudah merubah paradigma itu. Background pendidikan dan juga jenjang karirnya membuktikan bahwa ini memungkinkan, tidak ada korelasi antara latar belakang seseorang dan kesuksesan dalam menjalankan bisnis.

2. Hyper Expansion bisa dilakukan oleh orang Indonesia. Apakah kamu menyadari bahwa banyak sekali startup dari luar negeri yang mencapai nilai valuasi 1 triliun hanya dalam waktu beberapa tahun? Dulu hal ini dikira tidak mungkin terjadi di Indonesia, namun sekarang sangat sangat memungkinkan. Kemampuan gojek berekspansi sangat menakjubkan, sekarang gojek sudah memiliki lebih dari 8 layanan di aplikasinya dan ini terus bertambah sejalan dengan waktu.

3. Low profile. Gojek merupakan beberapa startup di Indonesia yang tidak terlalu mengeksposkan pendanaan yang telah ia raup selama ini. Jika kamu perhatikan, biasanya startup Indonesia akan masuk ke media mengenai jumlah investasi yang telah didapat setiap tahunnya. Sesuai yang ia terakan di seminar TechInAsia, hal itu tidak terlalu krusial, yang krusial adalah bagaimana membantu memecahkan masalah yang ada di masyarakat. Mungkin saja ini juga bagian dari strateginya agar kompetitor tidak tahu kondisi internal dari Gojek.

 

 

Leave a reply